Mellow time home

sekarang jam menunjukkan pukul 12.35… atau mejelang jam 1 siang di hari minggu…

beberapa jam lagi saya akan meninggalkan kedamaian hidup di rumah menuju kesibukan dunia kerja…

detak jarum jam terdengar jelas… seakan-akan mengejar diri saya untuk segera meninggalkan kenyamanan hidup di rumah….

saya berusaha menguasai pikiran saya sepenuhnya… tetap lah berpikir sehat… itulah yang saya sedang usahakan sekarang….

aktivitas menulis yang paling nikmat adalah pada saat kondisi seperti ini.. tidak ada kesibukan yang berarti, di dalam suasana yang damai, dan dalam tempat yang aman….

saya berusaha berpikir jernih dan damai… bagaimana seharusnya hidup itu dijalani….

saya terus bertanya dalam diri, apakah kehidupan itu memang harus naik turun seperti ini…?

tidak bisakah hidup ini stabil…. terus menerus berada dalam kedamaian….?

hati kecil saya mengatakan bahwa kehidupan seperti ini bisa didapatkan…. asal kita berpikir dengan benar dan tahu caranya….

mungkin saya harus membaca sekian buku dulu untuk bisa membangun pemikiran yang benar bagaimana cara menjalani hidup ini dengan tetap damai meskipun berada dalam kondisi paling mencekam sekalipun…

namun begitu, saya mencoba membangun konsep bagaimana cara menjalani kehidupan dengan penuh kedamaian…

———————————————————————————-

saya jadi ingat perkataan seseorang belum lama ini….

beliau berkata seperti ini: “bahagia itu adalah ketika engkau bisa tetap damai dalam kondisi apapun…”

ya, kurang lebih seperti itulah perkataan beliau….

dan saya saat ini sedang berusaha mencapai kondisi bahagia tersebut….

jikalau saya hanya bahagia ketika berada di dalam rumah pada saat weekend tanpa ada beban pikiran apapun, maka hal ini tidak bisa disebut sebagai bahagia..

jikalau saya hanya bahagia ketika kehidupan diliputi kesibukan kerja saja, hal ini juga tidak bisa disebut sebagai bahagia… emang ada ya?? ada ternyata, saya juga heran… sebagian orang menemukan saat-saat paling bahagia ketika sedang sibuk…. kalau saya sih sebaliknya, pikiran dan hati damai ketika sedang santai….

lalu, bagaimana agar kita bisa menjaga kedamaian pikiran dan hati dalam kondisi apapun?

hmmm………..

—————————————————————————————–

saya berpikir, agar bisa tetap damai dalam segala kondisi, maka pikiran dan hati kita tidak boleh bergantung pada kondisi tertentu..

ya, menurut saya kita harus menempatkan jiwa kita di langit, bukan di bumi….

segala yang terjadi di luar diri kita seharusnya tidak boleh secara langsung mempengaruhi kondisi jiwa kita….

kita harus belajar menjadi penguasa pikiran dan jiwa kita sendiri… aapun kondisinya…

ya benar…. beginilah caranya…. tidak menggantungkan kondisi pikiran dan jiwa dengan lingkungan di luar diri kita….

—————————————————————————————–

lalu kepada siapa kita mesti bergantung?…

apakah bergantung kepada pikiran sendiri? atau kepada kekuatan diri sendiri?…

tidak…. manusia ini lemah…. kalau kita masih merasa kuat, nampaknya kita belum mengenal diri kita dengan sebenarnya….

tidak lain dan tidak bukan, bahwa kita hanya bisa bergantung kepada Sang Pencipta…. Sang pemilik kekuatan… Tempat bergantungnya manusia….Tempat manusia meminta pertolongan dan menggantungkan harapan…..

dengan keyakinan bahwa segala hal itu kecil, segala masalah itu tidak mungkin di luar kesanggupan diri kita, seharusnya kita bisa merasa damai dalam kondisi apapun… selama apa yang kita lakukan masih berada di jalur yang diridhoi-Nya…

—————————————————————————————–

hati manusia memang mudah terbolak-balik…. kadang senang kadang sedih….

kadang semangat kadang malas…

dan untuk merubah suasana hati tersebut, tidak bisa dilakukan oleh diri kita sendiri…

karena kita tidak berkuasa untuk mengubah suasana hati kita sendiri…

oleh karena itu, mendekatlah kepada-Nya, meneteskan air mata harapan, ketergantungan, dan pengakuan akan lemahnya diri ini kepada-Nya merupakan salah satu nikmat yang besar….

apabila engkau merasa sedang sedih, tak bersemangat, dan bingung…. janganlah dipendam, karena memendam perasan hanya akan membuat diri kita sakit….

akuilah perasaan itu…. keluarkan lah perasaan itu…. akuilah semua kekurangan kita di hadapan-Nya….

mendekatlah kepada-Nya dengan tunduk dan lemah lembut…

dengan begitu, insya Allah hati kita akan segar kembali, akan tersenyum kembali dalam menjalani kehidupan yang serba tak pasti ini.. :)

————————————————————————————-

telah dijelaskan bahwa hati kita tidak akan tenang kecuali dengan dzikir atau mengingat-Nya….

hiruk pikuk kehidupan, kesibukan hidup, sering membingungkan kita dari makna sejati perkataan tersebut…

jikalau kita sedang tanpa kesibukan, berada sejenak di dalam kesendirian, maka kita akan membenarkan perkataan tersebut….

bahwa hati kita tidak akan tenang kecuali dengan mengingat-Nya….

————————————————————————————-

Alhamdulillahirabbil’aalamiin…

La haula wala quwwata Illa Billah…

Kebutuhan akan penerimaan

setiap manusia akan berpikir dan bergerak untuk memenuhi kebutuhannya, setelah itu mungkin sebagian ada yang menambah geraknya untuk memenuhi keingininannya…

selama gerakan seseorang itu untuk memenuhi tuntutan kebutuhannya, maka menurut saya, hal ini tidak bisa dibilang sebagai kejahatan…

misalpun kita memandangnya sebagai suatu bentuk kejahatan, hal itu lebih dikarenakan perbedaan cara berpikir antara kita dengan dia….

misal ada pengemis yang tidak pernah lelah mendatangi orang-orang setiap hari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mungkin sebagian besar dari kita mengganggap mereka sebagai manusia kriminal, karena kerjanya hanya mengambil harta orang tanpa mau usaha….

namun mungkin saja dalam benak sang pengemis, alasan mereka melakukan hal itu dikarenakan mereka benar-benar tidak tau mesti ngapain untuk bisa makan dan minum, satu-satunya cara yang mereka tahu adalah dengan mengemis, sehingga mereka mengemis setiap saat….

bedakan dengan para koruptor.. mereka ini pasti tau apa yang mereka lakukan salah, dan mereka pun tahu, sebenernya kebutuhan mereka sudah terpenuhi, korupsi adalah bentuk gerakan pemenuhan keinginan, bukan kebutuhan….

————————————————————————————-

tulisan di atas hanyalah intermezo, karena yang ingin saya bahas di sini adalah kebutuhan akan penerimaan dari pihak di luar diri kita….

tidak ada manusia yang cukup kuat untuk berdiri di atas kaki sendiri…

bahkan Fir’aun pun masih membutuhkan pengakuan dari para bawahannya untuk secara terpaksa mengakui bahwa  Fir’aun adalah tuhan itu sendiri…

kelemahan diri seorang Fir’aun ditutupi dengan memaksa para bawahannya untuk mengelu-elukan dirinya, sehingga dirinya semakin merasa besar dan hebat…

itu adalah contoh nyata dari seorang Fir’aun…

lalu bagaimanakah dengan kita sebagai manusia biasa yang masih punya hati nurani dan pikiran yang logis? tentunya kita juga memiliki kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan… dari seak kecil, secara naluriah setiap manusia membuthkan support dari pihak lain…

bagi anak-anak, kebutuhan itu dipenuhi oleh kasih sayang orang tua mereka….

semakin beranjak dewasa, seorang anak mulai mencari penerimaan selain dari orang tua mereka….

akhirnya mereka mencari support dari teman-temannya….

mengapa hal ini bisa terjadi? apakah dikarenakan ada kebutuhan yang belum terpenuhi? apakah tidak cukup support dan penerimaan dari orang tua mereka? tentu saja sudah cukup, namun semakin dewasa dan semakin mobile seseorang, dia pasti berhubungan dengan semakin banyak manusia…

bagi anak SD, ya mereka pasti berhubungan dengan teman-teman SD nya…

bagi para mahasiswa, mereka pasti berhubungan dengan teman-teman kuliah dan dosennya…

begitu terus hingga masa dia bekerja atau berwirausaha atau berprofesi sebagai apapun…

setiap orang pasti akan berhubungan dengan orang-orang di dunia nya dimanapun itu, dan kebutuhan akan penerimaan merupakan hal yang penting untuk dipenuhi….

hal ini sesuai juga dengan teori kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow, bahwa setiap manusia memiliki kebutuhan akan cinta, kasih sayang, dan persahabatan….

—————————————————————————————————-

sarana pemenuhan kebutuhan akan penerimaan ini sering dimanfaatkan oleh para pebisnis untuk mendirikan usaha-usaha terlarang untuk memenuhinya….

dibuatlah arena perjudian, karaokean, tempat dugem, komunitas-komunitas yang tidak baik, dsb….

kebutuhan akan penerimaan yang awalnya murni dan tulus ini kemudian tercemar oleh kelicikan para pebisnis….

dikarenakan kurang waspadanya manusia jaman sekarang, atau lebih seringnya adalah para ABG, maka terjerumuslah mereka di dalam area penuh lumpur ini…

tidak….! anda tidak membutuhkan semua itu… masih banyak tempat lain yang bisa memenuhi kebutuhan anda untuk diterima….

pulanglah engkau ke rumah dan engkau pasti akan diterima…

hubungilah teman-teman dekatmu dan engkau pasti akan diterima…

janganlah kita korbankan prinsip kita demi memenuhi kebutuhan akan penerimaan ini….

tidak perlu diterima oleh semua orang, cukup beberapa orang saja untuk bisa memenuhi kebutuhan ini….

tidak perlu berharap menjadi artis yang diterima oleh (katanya) semua orang….

tidak…! anda tidak membutuhkan penerimaan dari semua orang…

justru kebutuhan akan penerimaan yang terbesar adalah penerimaan dari Sang Pencipta kita…

untuk apa kita diterima oleh banyak orang apabila Pencipta kita tidak menerima kita alias mencampakkan kita? dimanakah tempat tinggalmu nanti?

kita… cepat atau lambat pasti akan menemui-Nya….

bagaimana jika Dia kelak tidak mau menemui kita karena kita memang tidak pernah mengharapkan penerimaan dari-Nya…

—————————————————————————————————–

kita semua memang memiliki kebutuhan akan penerimaan….

dan apabila kita diterima oleh Sang Pencipta, maka kita juga akan diterima oleh makhluk-makhluk-Nya…

wallahua’lam…

profit 6-8 juta rupiah / bulan

iseng-iseng Ym an ama temen kuliah dulu…

dia sekarang pengangguran, alias punya usaha jualan voucher pulsa…

ngobrol dikit2,,, saya kira untungnya paling 2-3 juta per bulan…

ternyata, 6-8 juta perbulan…

dengan beban kerja yang sedikit, paling makan waktu aja, temen saya ini bisa meraih profit sebesar 6-8 juta per bulan…

tiba2 saya jadi ga semangat kerja… bahkan gaji saya ga nyampe segitu….

tapi ntah kenapa saya malah senang banget denger kabar ini…

karena temen saya ini emang orangnya rendah hati dan easy going….

kalo dia punya mobil dari hasil usaha ini juga saya ikut seneng, suer deh,,,

dia ga pernah pamer2 usahanya, ato bangga2in usaha n keuntungannya….

tapi dibalik itu semua, ternyata temen saya ini sudah cukup makmur…

wah selamat bro….

saya ingin berguru kepadanya sekarang… hehe

hidayah itu begitu tulus, tidak seperti kita sekarang…

hidayah, sebuah kata yang sangat berat…dan juga sangat dalam…

seolah-olah hidayah itu seperti ilmu 1+1=2.. bukan!

hidayah itu seperti proses berhentinya orang merokok…

proses kembalinya seseorang ke desanya untuk membangun desa tersebut,,,

proses penyerahan harta besar2an untuk kemanusiaan…

proses keputusan untuk mengorbankan kepentingan pribadi….

tidak.. hidayah itu tidak mudah didapat…

semua orang bisa saja menangis,,, namun hanya orang yang mendapat hidayah yang bisa menangis karena takut kepada Ilahi…

hidayah, sebuah kata yang diidamkan oleh setiap manusia…

hidayah bukanlah pengakuan, apalagi berbangga-banggaan…

hidayah inilah yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga, dengan izin-Nya….

1+1= 2 tidak cukup memasukkan kita ke dalam surga….

mungkin kita bisa berbangga dengan 1+1=2, atau 8×5=40, atau yang lebih rumit daripada itu…

hidayah bukan soal hoby, ambisi, apalagi bangga diri….

hidayah itu seperti saat Umar bin Khatab teduh hatinya ketika dibacakan ayat Quran oleh adik perempuannya….

hidayah itulah harta karun yang didambakan oleh setiap orang….

warga china juga bisa membuat gedung…

di dubai malah terdapat gedung tertinggi…

orang indonesia juga pandai mengarang musik….

 

janganlah memaksakan diri mu…

engkau tahu bahwa yang kau inginkan adalah hidayah…

kenapa engkau justru mengejar yang lain…

hidup ini begitu singkat…

bayangkan saja, sudah 1/3 lebih kamu lewai hidup ini….

itu pun kalau jatah usia kita 60 tahun…. kalau kurang??

 

mari.. ambillah bekal yang banyak untuk dunia kita di masa depan…

jangan beratkan pikiran dan tubuhmu dengan hal-hal yang tidak dapat terjangkau….

sederhanalah dalam ketulusan….

All we need is love

Bismillah…

sudah lama saya ga nulis, sekarang pgn nulis sesuatu karena dipengaruhi juga oleh buku yang sedang saya baca sekarang…. apa itu bukunya tidak penting, apa yang sy tulis jg mungkin tidak penting, namun tulisan itu menurut saya tidak usah terlalu dipikirkan, kalau kita lagi pgn nulis, berarti itulah saat yang tepat untuk menulis…. meskipun tetap mesti diperhatikan kata-katanya, karena tulisan itu “kekal” tidak seperti ucapan atau pikiran… makanya juga ada ungkapan yang berbunyi “ikatlah ilmu dengan menulisnya”…. 

saya lagi pgn membahas mengenai cinta….

semua orang senang dengan kata cinta… alam semesta tercipta karena cinta, seseorang lahir karena cinta kedua orangtua, persahabatan timbul karena cinta…. kebahagiaan dimulai dari rasa cinta….

bahkan ibadah pun mengandung dua pokok, yakni cinta dan ketundukan….

apabila kita hanya cinta namun tidak tunduk pada Allah, itu bukan ibadah, seperti dua orang sejoli yang saling mencinta atau seorang ibu yang mencintai anaknya….

sedangkan jikalau kita hanya tunduk namun tidak cinta, itu juga bukan ibadah, seperti seorang budak yang dipaksa oleh majikannya, atau seorang yang terpaksa harus menuruti keinginan orang lain yang menzaliminya… tunduk namun terpaksa…

seorang hamba sejati adalah dia yang selalu mencintai dan juga tunduk kepada Sang pencipta, yakni Allah Yang Tunggal, baik dalam dzat, sifat, dan perbuatannya…

Cinta yang salah tidak pantas disebut sebagai cinta, yakni cinta yang menduakan Sang Pencipta, yang diungkapkan oleh umat-umat yang belum mengenal Tauhid secara benar…

saya merenung, apakah mereka pantas mendapatkan kebencian, padahal mereka beribadah dengan ungkapan cinta juga selayaknya kita? bukankah mereka lebih pantas mendapatkan cinta?

ternyata memang mereka tidak pantas mendapatkan cinta, meskipun mereka juga mengungkapkan cinta…

ibarat seorang anak yang menduakan kasih sayang kepada ibunya dan juga ibu temannya, bagaimana bisa sang ibu membalas cinta anaknya dengan maksimal? alih-alih membalas cinta sang anak, si ibu bisa jadi malah sakit hati dan berbalik membncinya…. 

sang anak mestinya sadar bahwa ia lahir dengan perantara satu ibu, yakni ibu kandungnya, dan juga diasuh dan dibesarkan oleh satu ibu, yakni ibu kandungnya… tak pantas sang anak mencintai ibu yang lain selain ibu kandungnya sendiri…

begitu juga dengan manusia,,, mestinya seluruh manusia sadar bahwa Yang menciptakan langit dan bumi, dan juga dirinya hanyalah Satu Tuhan, yang Tunggal baik dalam dzat, sifat, dan perbuatannya… tak pantaslah apabila ada sebagian manusia yang mencintai tuhan-tuhan lain karena memang tidak ada tuhan lain yang berhak disembah selain Allah…. semoga umat-umat yang salah kaprah dalam mencintai Sang Pencipta ini segera diberi petunjuk oleh-Nya, aamiin…

—————————————————————————————

Saya jg pgn membahas masalah ibadah tadi, dimana semestinya segala aktivitas kita ini menjadi bentuk ibadah…

ibadah yang mengandung dua arti, yakni cinta dan ketundukan, seharusnya menjadi aktivita yang disenangi oleh manusia…

bagaimana tidak? siapa dari kita yang tidak senang mencintai dan dicintai? apalagi oleh Sang Pencipta… kita semua ingin mencintai dan dicintai… terlebih oleh Sang Pencipta kita…

dan begitulah hukum yang terjadi di dalam kehidupan… misal kita seorang karyawan, apabila pekerjaan kita tidak dikaitkan dengan nilai ibadah.. apabila pekerjaan kita hanya berupa ketundukan dan kecintaan kepada atasan atau perusahaan kita, maka kita tidak akan pernah puas, dan pekerjaan akan menjadi suatu ladang politik yang penuh dengan persaingan dan kebencian…

Lain halnya apabila kita bekerja karena ibadah, kita bekerja sebagai bentuk kecintaan dan ketundukan kepada Sang Pencipta…. kita bekerja sebagai bentuk tanggung jawab profesional kita terhadap perusahaan, yang mana Allah menyukai orang-orang yang memenuhi amanah….

kita bekerja agar bisa berkontribusi kepada perusahaan, sebagai bentuk rasa syukur kepada perusahaan yang menjadi pipa penyalur rezeki kepada kita…. karena barangsiapa yang tidak bersyukur kepada manusia, sesungguhnya dia tidak bersyukur kepada Allah….

bekerjalah dengan penuh cinta dan ketundukan… cinta dan tunduk kepada Allah…kaitkan kewajiban dan amanah yang kita pegang dengan aspek ibadah…. dengan begitu, insya Allah kita akan selalu bahagia setiap hari… meskipun kondisi di dunia kerja tidak seperti yang kita harapkan.. namun karena kita bekerja untuk mencintai dan tunduk kepada-Nya, maka kita tidak akan kecewa, karena kita yakin bahwa ALlah akan membalas setiap niat dan pekerjaan yang baik…

begitu juga apabila kita mendapatkan keleluasaan dalam pekerjaan, kita tidak menjadi orang yang lepas kontrol, karena sadar bahwa semua hal telah diatur oleh-Nya… kemudahan-kemudahan dalam pekerjaan membuat dia semakin sadar bahwa Allah masih mau memberinya karunia.. sehingga malah akan menambah rasa syukur kepada-Nya….

penulis juga belum bisa merealisasikan hal ini, karena menulis dan berbicara itu masih berada dalam dunia maya.. sedangkan perbuatan adalah wujud nyata di dunia nyata….

penulis hanya ingin mengajak para pembaca untuk merenungi satu sisi kehidupan yang penulis angkat dalam tulisan kali ini, semoga kita semua bisa menjadi hamba yang bertauhid dan memiliki jiwa yang senantiasa bersyukur….

wallahua’lam….

Hiburan bagi yang Mendapatkan Musibah

Berikut adalah beberapa nasehat dari ayat al Qur’an, hadits dan perkataan ulama yang semoga bisa menghibur setiap orang yang sedang mengalami musibah.

Musibah Terasa Ringan dengan Mengingat Penderitaan yang Dialami Orang Sholih

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لِيَعْزِ المسْلِمِيْنَ فِي مَصَائِبِهِمْ المصِيْبَةُ بي

Musibah yang menimpaku sungguh akan menghibur kaum muslimin.1
Dalam lafazh yang lain disebutkan.

مَنْ عَظَمَتْ مُصِيْبَتُهُ فَلْيَذْكُرْ مُصِيْبَتِي، فَإِنَّهَا سَتَهَوَّنُ عَلَيْهِ مُصِيْبَتُهُ

Siapa saja yang terasa berat ketika menghapi musibah, maka ingatlah musibah yang menimpaku. Ia akan merasa ringan menghadapi musibah tersebut.2 Ternyata, musibah orang yang lebih sholih dari kita memang lebih berat dari yang kita alami. Sudah seharusnya kita tidak terus larut dalam kesedihan.

Semakin Kuat Iman, Memang Akan Semakin Terus Diuji

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.3

Di Balik Musibah, Pasti Ada Jalan Keluar

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6)
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan, “Kata al ‘usr (kesulitan) menggunakan alif-lam dan menunjukkan umum (istigroq) yaitu segala macam kesulitan. Hal ini menunjukkan bahwa bagaimana pun sulitnya, akhir dari setiap kesulitan adalah kemudahan.”4
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً

Bersama kesulitan, ada kemudahan.5

Merealisasikan Iman adalah dengan Bersabar

‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,

الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الجَسَدِ، وَلَا إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ صَبْرَ لَهُ.

Sabar dan iman adalah bagaikan kepala pada jasad manusia. Oleh karenanya, tidak beriman (dengan iman yang sempurna), jika seseorang tidak memiliki kesabaran.6

Musibah Awalnya Saja Terasa Sulit, Namun Jika Bersabar akan Semakin Mudah

Hudzaifah ibnul Yaman mengatakan,

إِنَّ اللهَ لَمْ يَخْلُقْ شَيْئاً قَطٌّ إِلاَّ صَغِيْراً ثُمَّ يَكْبَرُ، إِلاَّ المصِيْبَة فَإِنَّهُ خَلَقَهَا كَبِيْرَةً ثُمَّ تَصْغُرُ.

Sesungguhnya Allah tidaklah menciptakan sesuatu melainkan dari yang kecil hingga yang besar kecuali musibah. Adapun musibah, Allah menciptakannya dari keadaan besar kemudian akan menjadi kecil.7 Allah menciptakan segala sesuatu, misalkan dalam penciptaan manusia melalui tahapan dari kecil hingga beranjak dewasa (besar) semacam dalam firman Allah,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua.” (QS. Ghofir: 67)

Namun untuk musibah tidaklah demikian. Musibah datang dalam keadaan besar, yakni terasa berat. Akan tetapi, lambat laut akan menjadi ringan jika seseorang mau bersabar.

Bersabarlah Sejak Awal Musibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

Yang namanya sabar seharusnya dimulai ketika awal ditimpa musibah.8 Itulah sabar yang sebenarnya. Sabar yang sebenarnya bukanlah ketika telah mengeluh lebih dulu di awal musibah.

Pahala Orang yang Mau Bersabar Tanpa Batas

Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa  ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.9

Akan Mendapatkan Ganti yang Lebih Baik

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِى فِى مُصِيبَتِى وَأَخْلِفْ لِى خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ أَجَرَهُ اللَّهُ فِى مُصِيبَتِهِ وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا ». قَالَتْ فَلَمَّا تُوُفِّىَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ كَمَا أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِى خَيْرًا مِنْهُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ketika, Abu Salamah (suamiku) wafat, aku pun menyebut do’a sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan padaku. Allah pun memberiku suami yang lebih baik dari suamiku yang dulu yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”10

Do’a yang disebutkan dalam hadits ini semestinya diucapkan oleh seorang muslim ketika ia ditimpa musibah dan sudah seharusnya ia pahami. Insya Allah, dengan ini ia akan mendapatkan ganti yang lebih baik.

Semoga yang mendapati musibah semakin ringan menghadapinya dengan sedikit hiburan ini. Semoga kita selalu dianugerahi kesabaran dari Allah Ta’ala.
Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com
Diselesaikan pada malam 11 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul (kediaman mertua tercinta)

Footnote:
1 Shahih Al Jami’, 5459, dari Al Qosim bin Muhammad. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits
ini shahih.
2 Disebutkan dalam Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, Ibnu ‘Abdil Barr, hal. 249, Mawqi’ Al Waroq.
3 HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad Darimi no. 2783, Ahmad (1/185). Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 3402 mengatakan bahwa hadits ini shahih.
4Taisir Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 929, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H
5 HR. Ahmad no. 2804. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.
6 Bahjatul Majalis wa Ansul Majalis, hal. 250.
7 Idem.
8 HR. Bukhari no. 1283, dari Anas bin Malik.
9 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 7/89, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.
10 HR. Muslim no. 918.